04/01/11

Hukum Memimpin Doa Bersama Di Perusahaan

Konsultasi ini ana ambil dari seorang yang menanya ke Ustadz Zainal AbidinLc(dari Bekasi-Lulusan LIPIA JAKARTA)
Pertanyaan:

Assalaamu’alaikum.
Ustadz ana mau tanya terkadang ana diminta untuk memimpin do’a bila ada acara-acara seperti peluncuran produk baru di perusahaan tempat ana bekerja. Apakah hal ini diperbolehkan dalam syari’at Islam. Kalau tidak boleh lalu bagaimana solusinya ?
Barakalloohu fikum.

Jawaban:

Meskipun doa adalah aktivitas ibadah yang bermakna luas, namun setiap ibadah dalam Islam, tetap harus ada panduannya, apalagi doa merupakan ibadah paling mulia bahkan hampir semua ibadah disyariatkan untuk berdoa sehingga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasalam bersabda: Doa adalah ibadah.(1)

Jika doa merupakan ibadah maka seluruh ibadah termasuk berdoa tidak diterima kecuali setelah memenuhi dua syarat:
a.Dikerjakan atas dasar ikhlas mencari pahala dan ridha Allah subhanahu wata’ala.
b.Amalan tersebut sesuai dengan petunjuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasalam.

Sementara tidak pernah kita temukan dalil anjuran doa berjamaah sebelum bekerja. Maka hendaknya anda meninggalkan kebiasaan tersebut karena demikian itu termasuk bid’ah munkar yang harus dhindarkan. Karena setiap bentuk ibadah yang tidak ada ajarannya, tidak mengikuti petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wasalam, maka hukumnya adalah bid’ah.

Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasalam yang berbunyi “Barangsiapa yang melakukan amalan yang tidak ada dasar dari ajaran kami, maka amalannnya tertolak..” merupakan barometer amalan secara lahir. Hadits tersebut merupakan hadits yang agung yang meliputi ajaran Islam secara menyeluruh, secara fundamental, secara praktis, lahir maupun batin, ucapan maupun perbuatan. Imam Nawawi rahimahulloh pernah membicarakan hadits Aisyah radhiyallohu’anha dengan satu penjelasan yang berharga. Beliau mengungkapkan: “Sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasalam: “Barangsiapa yang membuat-buat ibadah yang tidak kami ajarkan, maka amalannya itu tertolak,” dan dalam riwayat lain: “Barangsiapa yang melakukan satu amalan yang tidak mengikuti ajaran kami,” dijelaskan oleh pakar bahasa Arab: “Kata radd (penolakan) memiliki arti mardud (tertolak)”. Artinya, amalan itu batil dan tidak masuk hitungan amalan. Hadits ini merupakan kaidah Islam yang agung, termasuk di antara sabda beliau yang ringkas dan padat. Hadits itu secara tegas menolak semua bid’ah dan segala ibadah yang dibikin-bikin.

Adapun penggantinya, hendaknya anda mengganti dengan memberi nasehat singkat kepada peserta yang hadir tentang pentingnya bersyukur atas kesuksesan dan mengajak mereka untuk senantiasa berdoa dan memohon kepada Allah pada setiap saat agar terus diberikan keberhasilan pada setiap langkah usaha dan diberikan rizki yang halal.

Footnote:
(1). Shahih diriwayatkan Imam at-Tirmidzi dalam Sunannya (2969)

Reaksi:

1 komentar:

Assalamu'alaikum ustadz... Bagaimana pendapat ustadz perihal tanya-jawab berikut ini:

Ana ingin minta penjelasan seputar doa bersama yang sering dilakukan sebagian masyarakat kita setelah suatu acara tertentu, baik bersifat keagamaan atau bukan. Bagaimanakah hal tersebut, dan bagaimana sikap kita.
Jazakumullahu khoiron,
Wassalamu’alaikum

Jawaban:

Ibnu Wahdah meriwayatkan dengan sanad sampai ke Abu Utsman An Nahdi, beliau mengatakan: Salah seorang gubernur yang di angkat oleh Khalifah Umar ibnu Khattab berkirim surat kepada khalifah Umar, isi suratnya “Sesungguhnya di sini terdapat sekelompok orang yang berkumpul lantas memanjatkan doa kebaikan untuk kaum muslimin secara umum dan penguasa secara khusus.” Balasan surat dari Khalifah Umar: “Hendaknya engkau menghadapku serta membawa mereka” Setelah gubernur tersebut tiba, khalifah Umar berpesan kepada penjaga rumah beliau untuk menyiapkan cambuk, tatkala mereka menemui khalifah Umar, beliau mencambuki pimpinan kelompok tersebut. Pimpinan kelompok tersebut berkata, “Wahai amirul mu’minin kami bukanlah orang-orang yang di maksud oleh gubernur tersebut, yang dimaksudkan oleh gubernur adalah sekelompok orang yang berasal dari daerah timur.” (Maa jaa fii bida’ karya Ibnu Wahdah hal 54 & Ibnu Abi Syaibah dalam Al Mushannaf 8/558 dan sanadnya berderajat hasan. Lihat Adz Dzikir Al Jama’i baina Al-Ittiba’ wal Ibtida’ karya Dr. Muhammad bin Abdurrahman Al Khumais hal 29).

Dalam hal 16 Dr. Al Khumais berkata, “Termasuk bentuk zikir jama’i yang ada saat ini adalah berkumpulnya banyak orang di suatu masjid karena negeri tersebut telah terjadi bencana. Mereka lalu berdoa kepada Allah secara serempak agar bencana segera berakhir.” Pada akhir pembahasan di hal 54, Dr Muhammad Al Khumais mengatakan, “Jelaslah bahwa zikir jamaah itu tidak memiliki dasar dalam agama Allah, karena tidak ada riwayat yang menjelaskan bahwa Nabi dan para sahabat berzikir dengan berjamaah.” Hal tersebut juga tidak dilakukan oleh salafus shalih bahkan mereka mengingkari orang yang melakukannya.

Tentang hal ini pernah ada orang bertanya kepada Imam Ahmad, “Apakah anda tidak menyukai jika ada sekelompok orang berkumpul untuk berdoa sambil mengangkat tangan?” Jawaban beliau “aku tidak membencinya asalkan berkumpulnya itu tidak dengan sengaja, kecuali mereka berjumlah banyak” (Iqtidha Ash Shirathal Mustaqim 2/630 & Al Amru bittiba’ hal 180. Lihat Qowaid Ma’rifati Bida’ hal 52).

Bisa kita simpulkan dari perkataan Imam Ahmad di atas bahwa doa berjamaah itu di perbolehkan dengan dua persyaratan:
1.Tidak sengaja berkumpul untuk hal tersebut,
2.Orang yang hadir tidak berjumlah besar sehingga orang-orang awam yang mengikutinya mengira bahwa amal ini memiliki keutamaan yang bersifat khusus.



Posting Komentar

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More