25/04/12

Mantan aktivis Dakwah tentang Demo


DEMO BUKAN JALAN JIHAD KAMI


ana akhwat, aktivis demo, bagi ana demo adalah jihad, perjuangan menegakkan syariat, kebenaran, melawan kebathilan, sarana yang paling oke untuk amar am’ruf nahyi munkar pokoke hidup demo. meskipun gara-gara demo bolos kuliah, siap muka terpanggang matahari dan ummahatnya pun rela menggendong bayinya dengan berpeluh panas bahkan yang hamilpun bela-belain untuk demo.
bahkan ana hampir mati ditabrak mobil TNI saat demo waktu kuliah.
Tapi apa hasil dari demo:
banyak terjadi ikhtilat itu JELAS, bukan hanya ikhwan jadi korlap, akhwat juga. bukan hanya ikhwan yang teriak yel2 sambil nyanyi! akhwat juga! bukan hanya ikhwan melompat2 dan teriak2, akhwat juga! sehingga SUDAH LAZIM terjadi CBSA (cinta bersemi saat aksi), ini rahasia umum gan!
TERJADI BETUL2 TERJADI IKHWAN tidak ada pemisah lagi dengan akhwat, BERCAMPUR-BAUR DAN BERDESAK2KAN. APAKAH INI MASIH DIBELA SEBUAH HAL YANG DARURAT DAN JIHAD???
ANA juga belajar politik dari SMU, siapa bilang DEMOKRASI DARI ISLAM? Aristoteleslah orang pertama memperkenalkan demokrasi!
dalam demokrasi yang benar adalah suara terbanyak sekalipun salah. dan jelas orang bodoh lebih banyak dari orang pintar. orang berpendidikan lebih sedikit dari yang tidak sekolah. orang paham agama lebih sedikit dari yang awam. maka demokrasi memenangkan siapa? pengikut Allah atau pengikut syaithan???
sekarang kita lihat teman2 kita yang katanya berjuang menegakkan syariah melalui demokrasi? teman2 kita yang mana sudah banyak menjadi aleg, pemimpin daerah namun perbaikan apa yang sudah dibuat??? sungguuh yahng terjadi bukanlah kita memperbaiki sistem namun larut dalam sistem dan diatur oleh sistem. ketika ada idealisme semua itu buyar dan bubar karena sekali lagi berlutut di hadapan demokrasi, tak sanggup berkata dan berbuat apapun ketika suara terbanyaklah yang menjadi dasar mengambil kebijakan.
mari kita renungkan wahai saudaraku fillah…
bagi kita yang ngotot membela demokrasi, demo, partai dengan alasan jihad, maslahat dan sebagainya cobalah renungkan: MASLAHAT APA????
Ketika datang penjelasan yang hakiki yang bersumber dari Qur’an dan Sunnah yang shahih mengapa kita masih membela sesuatu yang sudah mendarah daging dalam kehidupan kita padahal itu tidak berdasar sama sekali. mari kita lihat perjuangan Nabi2 terdahulu apakah mereka menjadi penguasa terlebih dahulu untuk mendakhwahkan ummat agar menyembah Allah ta’ala semata??? atau adakah di antara mereka ‘alaihimussalam mendirikan partai dan melakukan demo, memberontak pada penguasa?
Sungguh Nabi Musa dan Nabi Harun ‘alaihimassalampun diperintah Allah ta’ala untuk berdakwah dengan cara yang paling lembut terhadap fir’aun raja yang paling zhalim yang mengaku tuhan!!!
maka siapakah teladan kita??? Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para Nabikah atau aristoteles???
jika alasan kita adalah itu adalah zaman dulu, sekarang sudah beda, maka apakah kita tidak yakin bahwa Islam diturunkan untuk seluruh alam dan tidak ada Nabi lagi setelah beliau sehingga ajaran Beliau sudah sempurna dan lengkap, tidak perlu ditambah2 lagi.
marilah tinggalkan segala syubhat, ikuti jalan Rasulullah yang lurus dan terang benderang.
Mari bersatu di dalam Islam ikut apa kata Allah apa kata Rasul seperti para sahabat beramal, tinggalkan segala partai, golongan yang memecah belah kita. Allahu Akbar!
Sekarang kita lihat penjelasan tentang demo disini:
Belakangan ini demonstrasi sudah bisa dikatakan sangat lumrah di negara kita. Banyak orang mengatakan bahwa “demonstrasi” adalah bagian dari amar makruf nahi munkar, sehingga seolah-olah menjadi hal yang harus dilakukan. Namun kita harus melihat dari kacamata syar’i apakah benar demonstrasi yang dinamakan oleh pemujanya sebagai metode amar ma’ruf nahi munkar merupakan manhaj (cara beragama) Nabi yang mulia shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya, ataukah sesuatu yang harus diluruskan? Dan ketahuilah, tidaklah nama yang indah itu akan merubah hakikat sesuatu yang buruk, walau dibumbui dengan label Islami.
Metode Nabi Dalam Ber-Amar Ma’ruf
Rasulullah bersabda, “Agama adalah nasihat” Kami bertanya, “Untuk siapa?” Beliau menjawab, “Untuk Allah, kitab-Nya, Rasul-Nya,  para pemimpin kaum muslimin serta orang-orang awamnya.” (HR. Muslim no.55) Perhatikanlah saudaraku, agama kita mensyariatkan untuk memberi nasihat. Namun tidaklah nasihat tersebut disampaikan kecuali dengan cara yang baik, tidak dengan membuka aib penguasa. Simaklah baik-baik sabda Rasulullah shallollahu ‘alaihi wa sallam“Barangsiapa yang hendak menasihati pemerintah dengan suatu perkara maka janganlah ia tampakkan di khalayak ramai. Akan tetapi hendaklah ia mengambil tangan penguasa (raja) dengan empat mata. Jika ia menerima maka itu (yang diinginkan) dan kalau tidak, maka sungguh ia telah menyampaikan nasihat kepadanya. Dosa bagi dia dan pahala baginya (orang yang menasihati)” (Shahih, riwayat Ahmad, Al Haitsami dan Ibnu Abi Ashim) Saudaraku, apakah seseorang dapat menerima saranmu dengan baik jika engkau jelek-jelekkan serta kau umbar aibnya di depan umum? Bagaimana jika kejengkelan hatinya telah mendahului nasihatmu?
Jatuh Dalam Riba yang Paling Mengerikan
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya riba yang paling mengerikan adalah mencemarkan kehormatan seorang muslim tanpa alasan” (Shahih, riwayat Abu Dawud dan Ahmad). Kehormatan seorang muslim adalah haram, sedangkan dalam demonstrasi ini tidak jarang akan engkau temukan berbagai macam pelecehan kehormatan seorang muslim dengan mencelanya.
Fitnah Wanita dan Ikhtilath
Hampir di setiap gerakan massa diwarnai dengan hadirnya kaum wanita di jalan-jalan. Hal ini jelas bertentangan dengan syariat islam, karena Allah melarang wanita untuk keluar dari rumahnya kecuali dengan alasan yang syar’i. Selain itu, hal ini akan menimbulkan ikhtilath (campur baur) antara pria dan wanita yang bukan mahramnya secara terang-terangan! Maka cukuplah sabda Nabi yang mulia shallallahu ‘alaihi wa sallam berikut ini bagi mereka. Dari ‘Uqbah bin ‘Amir, Rasulullah bersabda, “Tinggalkanlah olehmu bercampur baur dengan kaum wanita!” (HR. Bukhari).
Tasyabbuh (Meniru) Dengan Kaum Kuffar
Demonstrasi adalah produk barat yang jelas-jelas menganut sistem kuffar. Maka tidak pantas bagi seorang muslim untuk memasang label ‘islami’ karena memang Islam tidak mengajarkan cara seperti ini. Atau bahkan meyakininya sebagai metode dakwah yang islami. Rasulullah bersabda, “Barangsiapa meniru suatu kaum maka ia termasuk golongan mereka.” (HR. Abu Dawud).
Ketahuilah sidang pembaca yang budiman, sesungguhnya Islam tidak akan menang dengan cara yang menyelisihi syariat, namun Islam akan menang dengan cara yang benar yang dibangun di atas aqidah yang benar, dan jalan yang telah ditunjukkan Nabi Muhammad. Maka sesungguhnya kebahagiaan dan keselamatan adalah dengan mengikuti Rasul, bukan dengan menyelisihi beliau.
***
Penulis: Muhammad Nur Ichwan Muslim
Artikel www.muslim.or.id

Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More